Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Pages

Rabu, 05 Desember 2018

Cerpen


Cita – Citaku
            Di desa yang bernama Rindasari, tinggalah satu keluarga yang terdiri dari seorang anak laki-laki, seorang anak perempuan, dan  Ibu dari mereka. Anak laki-laki itu bernama Andi , sedangkan adik perempuannya bernama Rhiny. Andi berumur 14 tahun dan adiknya berumur 10 tahun. Kalau dihitung-hitung sekarang Andi sudah  kelas 2 SMP. Saat Andi berumur 12 tahun, ayahnya meninggal sejak itu Andi putus sekolah. Andi bercita-cita  ingin menjadi Arsitek supaya bisa mengubah taraf hidup keluarganya.
            Sehari-hari Andi membantu ibunya membuat kue untuk dijual ke pasar. Sedangkan Rhiny yang mengantarkan kuenya ke pasar. Begitulah kegiatan keluarga itu sehari-hari.
            Suatu hari datanglah seorang dermawan yang bernama Pak Rinan ke rumah Andi. Setelah berbincang-bincang dengan ibunya Andi, Pak Rinan yakin bahwa Andi sebenarnya anak yang pintar dan cerdas. Munculah rasa simpati Pak Rinan terhadap Andi. Pak Rinan pun menawarkan kepada Ibunya Andi, agar Andi bersekolah lagi di Kota sampai sarjana, semua biaya ditanggung oleh Pak Rinan. Ibunya Andi bingung harus menjawab apa, menolak ataukah menerima tawaran itu.
            Malam pun tiba dan sepertinya malam adalah saat yang tepat untuk menyampaikan maksud Pak Rinan. Ibunya pun meminta pendapat Andi tentang maksud Pak Rinan. “Bu, lebih baik kita terima saja tawaran Pak Rinan, kapan lagi Bu ada kesempatan untuk Andi bersekolah?” kata Andi. “Ya sudah, terserah Andi saja apapun keputusan yang Kamu ambil Ibu akan selalu mendukung karena itu untuk kebaikan Kamu dan Ibu akan selalu berdoa untuk keberhasilan kamu.” Jawab Ibu. “Terimakasih ya Bu, nanti sebulan sekali Andi mengunjungi Ibu.” Kata Andi. “Iya Nak, restu Ibu selalu menyertaimu.” jawab Ibu.
            Keesokan harinya. “Pak, setelah saya tanya kesediaan Andi untuk bersekolah di Kota, ternyata Dia menerima tawaran Bapak .” kata Ibu Andi kepada Pak Rinan. “Oh ya Bu, kalau begitu besok Andi berangkat ke Kota bersama saya.” Jawab Pak Rinan. “Terimakasih sebelumnya Pak, atas bantuan dan perhatian Bapak terhadap Andi anak  saya.” Kata Ibu Andi. “Iya Bu sama-sama sudah sepantasnya Kita sebagai umat Islam untuk saling tolong menolong.” Jawab Pak Rinan.
           Keesokan harinya Andi dan Pak Rinan berangkat ke Kota menggunakan mobil Pak Rinan, Andi berpamitan kepada Ibunya. “Bu, Andi berangkat dulu ya.” Kata Andi. “Hati-hati di jalan ya Nak, dan jangan lupakan sholat serta ibadahmu, doa dan restu Ibu selalu menyertaimu.” Jawab Ibunya. “Trimakasih  Bu, Andi akan merindukan Ibu serta Rhiny.” Kata Andi.
            Setelah satu jam perjalanan sampailah mereka di rumah Pak Rinan. “Andi ini rumah Bapak, jangan sungkan ya, dan itu kamar kamu (sambil menunjuk sebuah kamar).” Kata Pak Rinan. “Baik Pak dan terimakasih.” Jawab Andi. “Ndi, tidak usah panggil Pak, panggil saja Ayah, anggap saja Bapak ini sebagai Ayah angkatmu.” Kata Pak Rinan. “Baik, Pak, eh Yah.” Jawab Andi.
            Andi segera membereskan barang-barang yang ia bawa. Lalu Andi ke ruang makan untuk makan siang karena telah memasuki waktu makan siang. Andi makan siang bersama Pak Rinan.
“Andi besok kamu sudah mulai sekolah, nanti kamu sekolah diantar oleh Pak Supir.” Kata Pak Rinan. “Baik, Yah.” Jawab Andi.
Hari ini adalah hari pertama Andi bersekolah di Sekolah barunya. Karena Andi pintar dan cerdas Andi masuk kelas VII A. Andi menjalani hari barunya dengan penuh senyuman dan keceriaan.
Teeettt… Teeeetttt… Bel sekolah berdering, saatnya Andi untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Andi berpikir ‘dengan apa saya bisa membalas semua kebaikan Pak Rinan ini?’. Andi belajar dengan penuh semangat untuk membahagiakan Ayah angkatnya.
Tiga Minggu berlalu. Hari ini Andi bersama Pak Rinan akan mengunjungi  Ibu Andi di Desa Rindasari. “Assalamu’alaikum.” Kata Andi. “Wa’alaikumsalam, eh Andi.” Jawab Ibunya. “Iya, Bu ini Andi.” Kata Andi. Andi segera memeluk Ibunya tercinta.
Setelah beberapa jam di rumah Ibunya, Andi berpamitan ke Ibunya untuk kembali pulang ke Kota. “Bu, Andi pulang dulu, nanti Andi akan mengunjungi Ibu lagi.”kata Andi. “Iya, Nak. Hati-hati dijalan.” Jawab ibunya. “Baik, Bu.” Ucap Andi.
Andi belajar dengan giat agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Ia tidak mau mengecewakan ayah angkatnya. Selain itu, Andi ingin membalas kebaikan Pak Rinan dengan prestasi Andi yang gemilang.
Tiga tahun sembilan bulan berlalu. Hari ini adalah hari yang paling menegangkan bagi Andi. Karena hari ini adalah hari kelulusan. Setelah beberapa menit, akhirnya nama Andi di panggil, untuk mengambil surat kelulusan, ijazah dan raport. Andi  membuka perlahan surat kelulusannya dan ternyata Andi lulus dari SMP, dengan nilai yang sangat memuaskan. Andi sangat bahagia, ia segera memberikan kabar kepada Ayah angkatnya. Pak Rinan bangga pada Andi, karna Andi telah membutikan bahwa ia bisa.
 Hari ini Andi bersama Pak Rinan akan mengunjungi  Ibu Andi di Desa Rindasari. “Assalamu’alaikum.” Kata Andi. “Wa’alaikumsalam, eh Andi.” Jawab Ibunya. “Iya, Bu ini Andi.” Kata Andi. Andi lansung memeluk Ibunya tercinta dan memberikan raport dan Ijazahnya. Ibunya sangat bahagia setelah melihat hasil anaknya menuntut ilmu di Kota.
“Bu Rhiny mana?” kata Andi. “Rhiny sedang bermain.” Jawab Ibunya. “Dengan siapa  Bu? Andi panggil ya Bu?” kata Andi. “Dengan Wulan. Iya Nak.” Jawab Ibunya. “Rhiiiiinnnnyyyy!” teriak Andi. “Eh kak Andi, kapan datang Kak?” jawab Rhiny. “Rhiny Kakak berhasil lulus dari SMP dengan hasil yang memuaskan. Kakak kangen sekali sama kamu Rhiny!” kata Andi. “Wah, hebat Kakak, selamat ya Kak. Rhiny juga kangen dan senang sekali dengan keberhasilan Kakak.” Jawab Rhiny. “Iya Rhiny.” Kata Andi.
Setelah melepas rindu dengan Ibunda dan Adik tercinta Andi kembali lagi ke Kota bersama Pak Rinan. Keesokan harinya Andi melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMA. Andi menjalankan hari barunya dengan semangat.
Karena Andi mudah bergaul, di SMA Andi mempunyai banyak sekali teman.
Tiga tahun berlalu. Andi selalu mendapatkan peringkat pertama di SMA-nya. Sekarang hari penentuan bagi Andi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. “Andi Firdaus.” Kata seorang Ibu Guru. Andi segera ke meja Guru untuk mengambil raport dan ijazah SMAnya. Andi  membuka perlahan raportnya dan ternyata Andi lulus dari SMA, dengan nilai yang sangat memuaskan. Andi sangat bahagia, ia segera memberikan raportnya pada Ayah angkatnya. Pak Rinan bangga pada Andi, karna Andi telah membutikan bahwa ia bisa.
Hari ini Andi bersama Pak Rinan akan mengunjungi  Ibu Andi di Desa Rindasari. “Assalamu’alaikum.” Kata Andi. “Wa’alaikumsalam, eh Andi.” Jawab Ibunya. “Iya, Bu ini Andi.” Kata Andi. Andi lansung memeluk Ibunya tercinta dan memberikan raport dan Ijazahnya. Ibunya sangat bahagia setelah melihat nilainya yang sangat memuaskan.
Setelah melepas rindu dengan Ibunda tercinta Andi kembali lagi ke Kota bersama Pak Rinan. Keesokan harinya Andi melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Kuliah. Andi mengambil jurusan Tehnik Sipil untuk menjadi Arsitek.  Andi menjalankan hari barunya dengan penuh senyuman, keceriaan, dan semangat yang menggebu.
Enam tahun pun berlalu. Sekarang adalah hari penentuan bagi Andi. “Andi Firdaus.” Kata seorang Dosen. Andi segera ke meja Dosen untuk mengambil raport dan ijazahnya. Andi  membuka perlahan raportnya dan ternyata Andi lulus dari jurusan yang ia ambil, dengan nilai yang sangat memuaskan. Andi sangat bahagia, ia segera memberikan raportnya pada Ayah angkatnya. Pak Rinan sangat bangga pada Andi, karna Andi telah membutikan bahwa ia pasti bisa lulus dari jurusan yang ia ambil.
 Hari ini Andi bersama Pak Rinan akan mengunjungi  Ibu Andi di Desa Rindasari. “Assalamu’alaikum.” Kata Andi. “Wa’alaikumsalam, eh Andi.” Jawab Ibunya. “Iya, Bu ini Andi.” Kata Andi. Andi lansung memeluk Ibunya tercinta dan memberikan raport  dan Ijazahnya. Ibunya sangat bahagia setelah melihat hasil belajar anaknya selama bertahun-tahun.
Berkat Pak Rinan dan kegigihan Andi, kini Andi sudah bekerja sesuai dengan keahliannya dan menjadi orang sukses seperti yang dulu ia cita-citakan. Ia sudah bisa mengubah perekonomian dan membahagiakan orang-orang yang dicintainya termasuk Pak Rinan ayah angkatnya.


               Cita – Citaku

Menjadi arsitek
Adalah cita-citaku
Aku kan trus menimba ilmu
Demi terwujudnya impianku…
            Rintangan demi rintangan telah aku lewati
            Berkatmu, Pak Rinan
            Kini ku tlah menggapai impianku...
            Terimakasih Pak Rinan…


Carpon


Cita – Cita Abdi

Di désa anu namina Rindasari, tinggalah 1 kulawarga anu diwangun ti 1 anak lalaki, 1 anak awéwé,  sarta saurang Ibu. Anak lalaki éta namina Andi , manéhna miboga 1 adi awéwé anu namina Rhiny. Andi berumur 14 warsih sedengkeun adina berumur 10 warsih. Lamun dihitung-hitung ayeuna Andi geus kelas 2 SMP. Waktu Andi berumur 12 warsih, Abahna maot saprak harita Andi pegat sakola. Andi bercita-cita hayang jadi Arsiték sangkan bisa ngarobah hirup kulawargana.
            Sapopoé Andi mantuan Emana nyieun kueh pikeun dijual ka pasar. Sedengkeun Rhiny anu nganteurkeun kuehna ka pasar. Kitu pisan kagiatan kulawarga éta sapopoé.
            Hiji dinten aya saurang balabah anu namina Pak Rinan ka Bumi  Andi. Saatos ngobrol jeung Emana Andi, Pak Rinan yakin yén Andi sabenerna anak anu singer sarta calakan. Kaluar rasa simpati Pak Rinan ka Andi. Pak Rinan ogé nawarkeun ka Indungna Andi, ambéh Andi sakola deui di Dayeuh nepi ka sarjana, kabéh waragad ditanggung ku Pak Rinan.
            Peuting ogé anjog. Emana Andi bingung kudu némbalan naon. Emana ogé ménta pamadegan Andi kumaha. “Ma, leuwih alus urang tarima waé tawaran Pak Rinan, iraha deui Ma aya kasempetan pikeun Andi Sakola?” kecap Andi. “Enya geus, kumaha Andi waé.” Waler Emana. “Nuhun enya Ma, engké sabulan sakali Andi ngadatangan Ema.” Kecap Andi. “Enya, Nak.”Waler Emana.
            Enjingna, “Pak Abdi tarima tawaran Anjeun.” Kecap Emana  Andi ka Pak Rinan. “Enya, Ma. Isukan Andi sasarengan Abdi baris angkat ka Dayeuh.” Waler Pak Rinan. “Saméméhna, nuhun enya Pak, luhur bantuan Bapa ka kulawarga Abdi.” Kecap Emana Andi. “Enya, Ma. Sami-sami.” Waler Pak Rinan.
            Dina dinten ieu Andi sarta Pak Rinan angkat ka Dayeuh ngagunakeun mobilna Pak Rinan, Andi nyuhunkeun widi ka Emana. “Ma, Andi angkat heula nya.” Kecap Andi. “Ati-ati di jalan nya, Nak.” Waler Emana. “Enya, Ma.” Kecap Andi.
            Sanggeus hiji jam lalampahan, Andi sarta Pak Rinan nepi ka di Bumi Pak Rinan. “Andi kamar anjeun di dinya (bari nunjuk hiji kamar).” Kecap Pak Rinan. “Muhun, Pak, mangga.” Waler Andi. “Ndi, engga perlu panggil Pak, panggil waé Abah, anggap waé Bapa ieu minangka Abah angkatmu.” Kecap Pak Rinan. “Muhun, Pak, éh Bah.” Waler Andi.
            Andi geura-giru ngaberesan barang-barang anu manéhna bawa. Tuluy Andi ka rohang emam pikeun emam siang alatan geus ngasupan wayah emam siang. Andi emam siang  sasarengan Pak Rinan.
            “Andi, isukan Andi geus mimitian sakola, engké Andi sakola dianter ku Pak Supir.” Kecap Pak Rinan. “Muhun, Bah.” Waler Andi.
           

Dinten ieu nyaéta dinten kahiji Andi Sakola di Sakola anyarna. Alatan Andi singer sarta Calakan Andi asup kelas 7 A. Andi ngajalanan dinten anyarna kalayan pinuh sanyuman sarta kaceriaan.
Teeettt… Teeeetttt… Bel sakola disada waktuna Andi pikeun balik ka Bumi. Sanepina di Bumi Andi mikir ‘kalayan naon Abdi bisa ngabales kabéh kebaikan Pak Rinan ieu?’. Andi diajar kalayan pinuh sumanget pikeun ngabageakeun Abah angkatna.
            Tilu Minggu berlalu. Dinten ieu Andi babarengan Pak Rinan baris ngadatangan Emana Andi di Désa Rindasari. “Assalamu’alaikum.” Kecap Andi. “Wa’alaikumsalam, éh Andi.”Waler Emana. “Enya, Ma ieu Andi.” Kecap Andi. Andi lansung nangkep Emana tercinta.
            Sanggeus sawatara jam di Bumi Emana, Andi nyuhunkeun widi ka Emana pikeun uih deui ka Dayeuh. “Ma, Andi uih heula, engké Andi baris ngadatangan Ema deui.” Kecap Andi. “Enya, Nak. Ati-ati di jalan.” Waler Emana. “Muhun, Ma.” Kecap Andi.
            Andi diajar kalayan giat. Pikeun meunangkeun hasil anu nyugemakeun. Andi teu hoyong nguciwakeun ayah angkatnya. Sajaba ti éta, Andi hayang ngawales kasaean Pak Rinan kalayan prestasi Andi anu gumilang. 
            Tilu warsih salapan sasih tos kalangkungan. Dinten ieu nyaéta dinten anu pang negangkeun pikeun Andi. Alatan dinten ayeuna aya kanaékan kelas. Saatos sawatara menit, pamustunganana ngaran Andi di sebat  pikeun nyandak raport. Andi  lalaunan muka raportna sarta tétéla Andi lulus ti SMP, jeung peunteun anu pohara nyugemakeun. Andi pohara bagja, Andi gura-giru masihkeun  raportna ka Ayah angkatna. Pak Rinan reueus ka Andi, kusabab Andi geus ngabutikan yén manéhna bisa.
            Dinten ieu Andi sasarengan Pak Rinan baris nyumpingan Emana Andi di Désa Rindasari. “Assalamu’alaikum.” Kecap Andi. “Wa’alaikumsalam, éh Andi.” waler Emana. “Muhun, Ma ieu Andi.” Kecap Andi. Andi teras nangkeup Emana nu dipika tresna sarta masihkeun raport SMPN  sarta Ijazahna. Emana pohara bagja sanggeus nempo raportna. 
            “Bu Rhiny mana?” kecap Andi. “Rhiny nuju ameng.” Waler  Emana. “Sareng saha Ma? Disauran ku Andi nya Bu?” kecap Andi. “Sareng Wulan. Sok atuh Jang.” Waler Emana. “Rhiiiiinnnnyyyy!” gorowok Andi. “Éh Kang Andi, aya naon Kang?” Waler Rhiny. “Rhiny Akang tos lulus ti SMP, alhamdulilah  hasilna nyugemakeun. Akang kangen pisan ka Rhiny!” kecap Andi. “Wah, hébat Kang, salamet nya Kang. Rhiny ogé kangen pisan ka Akang.” Waler Rhiny. “Muhun hatur nuhun  Rhiny.” Kecap Andi
            Saatos ngalepas sono jeung Ema sarta Adi tercinta Andi uih deui ka Dayeuh sasarengan Pak Rinan. Enjingna Andi nuluykeun sakola ka jenjang anu leuwih luhur nyaéta SMA. Andi ngajalankeun dinten anyarna jeung sumanget 45.
           


Tilu warsih berlalu. Andi sok meunangkeun peringkat kahiji di SMAna. Ayeuna dinten penentuan pikeun Andi pikeun nuluykeun ka jenjang anu leuwih luhur. “Andi Firdaus.” Kecap saurang Ibu Guru. Andi geura-giru ka méja Guru pikeun nyandak raport sarta ijazah SMAna. Andi muka lalaunan raportnya sarta tétéla Andi lulus ti SMA, jeung peunteun anu pohara nyugemakeun. Andi pohara bagja, Andi geura-giru masihkeun raportna ka Abah angkatna. Pak Rinan reueus ka Andi, kusabab Andi ngabuktikeun yén manéhna bisa.
            Dinten ieu Andi babarengan Pak Rinan baris nyumpingan Emana Andi di Désa Rindasari. “Assalamu’alaikum.” Kecap Andi. “Wa’alaikumsalam, éh Andi.” Waler Emana. “Enya, Ma ieu Andi.” Kecap Andi. Andi teras nangkeup Emana nu dipika tresna sarta mengasihkan raport SMAna sarta Ijazahnya. Emana pohara bagja sanggeus nempo peunteunana anu pohara nyugemakeun.
            Saatos ngalepas sono jeung Ema tercinta Andi uih deui ka Dayeuh sasarengan Pak Rinan. Enjingna Andi nuluykeun sakola ka jenjang anu leuwih luhur nyaéta Kuliah. Andi nyandak  jurusan Tehnik Sipil pikeun jadi Arsiték. Andi ngajalankeun dinten anyarna kalayan pinuh sanyuman, keceriaan, sarta sumanget 45.
            Genep Warsih tos kalangkungan. Ayeuna nyaéta dinten penentuan pikeun Andi. “Andi Firdaus.” Kecap saurang Dosen. Andi geura-giru ka méja Dosen pikeun nyandak raport sarta ijazahnya. Andi muka lalaunan raportnya sarta tétéla Andi lulus ti jurusan anu Andi candak, jeung peunteun anu pohara nyugemakeun. Andi pohara bagja, Andi geura-giru méré raportnya ka Abah angkatna. Pak Rinan pohara reueus ka Andi, kusabab Andi geus ngabuktikeun yén manéhna pasti bisa lulus ti jurusan anu Andi candak.
            Dinten ieu Andi sasarengan Pak Rinan baris nyumpingan Ema Andi di Désa Rindasari. “Assalamu’alaikum.” Kecap Andi. “Wa’alaikumsalam, éh Andi.” Waler Emana. “Muhun, Ma ieu Andi.” Kecap Andi. Andi teras nangkeup Emana nu dipika tresna sarta masihkeun raport na sarta Ijazahnya. Emana pohara bagja saatos ningal raportna.
            Hasil tekad Andi sartaPak Rinan, kiwari Andi geus jadi jalema suksés. Andi geus bisa ngarobah perekonomian kulawargana.


Poem


My School
By      : Arini Ratnasari
My school…
Its very very beautiful
My please to find the science
The park is very beautiful
Around the buildings

            The sun in the morning…
            To shine upon this school
            Its very refreshing to heart
            To make our fresh…

Situation the study…
Its very to please
Fresh and beautiful
I will not forgetting you…

Rabu, 27 September 2017

Jangan Melupakan Sejarah



SDI Punya Cerita

Laweyan menjadi salah satu pusat batik yang tertua dan terkenal di Kota Solo setelah Kampung Batik Kauman. Kampung ini memiliki luas area 24.83 hektar dan berpenduduk kira-kira 2500 penduduk di mana sebagian besar penduduknya bekerja sebagai pedagang ataupun pembuat batik.  Masjid Laweyan adalah masjid tertua yang ada di Kota Solo. Masjid Laweyan ini dulu terkenal dengan Masjid Ki Angeng Henis. Masjid ini menjadi saksi bisu penyebaran islam di Kota Solo. Arsitektur masjid ini terpengaruh oleh budaya Hindu. Dahulunya Ki Angeng Henis adalah teman dari seorang Raja dari Kerajaan Pajang. Kerajaan Pajang ini terpengaruh ajaran Hindu. Ki Ageng Henis adalah penasihat Kerajaan Pajang dan bersahabat dengan  pemuka agama Hindu. Mereka berdua pun mendirikan salah satu Pura di Laweyan. Pura di Laweyan ini berubah menjadi Langgar (Mushola) untuk melayani umat islam saat itu. Dari Langgar Laweyan berubahlah menjadi Masjid Laweyan ini. Masjid ini terletak di dekat sungai yang menjadi lalu lintas perdagangan Samanhudi, bernama Sungi anak Bangawan Solo.
 Pada tahun 1800an Kampung Lawean tidak boleh memproduksi batik oleh Belanda. Melihat hal ini, Samanhudi beserta kawan-kawan bergerak agar kampung Laweyan bisa mandiri. Awalnya Samanhudi suka menulis, lalu disarankan oleh R.M. Tirtoadisuryo untuk membuat organisasi dengan menyusun ADRT. Namun, Samanhudi tidak percaya diri, ia rasa dirinya tidak mempunyai apa-apa. Tirto memanggil Cokro untuk membantu Samanhudi, Cokro pun datang dari Surabaya. Hingga akhirnya terbentuklah SDI pada tanggal 16 Oktober 1905 diketuai oleh Samanhudi. Konggres pertama SDI bertempat di Solo. Samanhudi hanyalah lulusan SD, tapi ia mampu menjadi pemimpin Filantropi. SDI bertujuan untuk memberikan bantuan pada para pedagang pribumi agar dapat bersaing dgn pedagang Cina. Gambar disamping adalah strutur SDI.
            SDI berkembang dengan pesat, 6000 pengusaha mengikuti SDI. Belanda resah, kedudukannya terancam. Belanda mencari celah agar SDI bisa bubar. ADRT lah sasarannya. Memang saat itu ADRT SDI belum sempurna sekali, masih banyak hal-hal yang kurang tepat dan rancu. R.M. Tirtoadisuryo pun menyarankan kembali, untuk menyusun kembali ADRT dan merubah nama menjadi SI (Sarekat Islam). Saat pemilihan ketua, banyak yang sudah terkena pengaruh dari Belanda, yang menanyakan “Mengapa kalian percaya terhadap Samanhudi yang hanya lulusan Sekolah Dasar?”. Maka dipilihlah H.O.S. Cokroaminoto sebagai ketua SI, dan Samanhudi sebagai Dewan Istemewa. Samanhudi tidak langsung turun ke struktur, tetapi dia mengamati sebagai Penasihat.
SI menerbitkan surat kabar “Utusan Hindia”. SI berkembang dengan cepat dan mempunyai cabang diberbagai kota. Perkembangannya dianggap sebagai ancaman pemerintah. Sehingga pergerakannya dibatasi dengan dikeluarkannya peraturan, yaitu cabang SI harus berdiri sendiri dan terbatas daerahnya. Dibentuklah Central Sarekat Islam (CSI) yang mengorganisasikan 50 cabang kantor SI daerah. SI mengirimkan wakilnya di Volksraad. Di Volkraad, SI memegang peranan penting di Radicale Concentratie (gabungan perkumpulan yg bersifat radikal). SI berubah haluan dari kooperatif menjadi nonkooperatif dan menolak ikut serta dalam dewan rakyat yang dibentuk pemerintah
Tahun 1914 Kongres SI di Yogya dipilih HOS. Cokroaminoto menjadi pimpinan SI.Tahun 1916 dlm Kongres tahunan SI, Cokroaminoto menyampaikan pidatonya ttg perlunya pemerintahan sendiri untuk rakyat Indonesia. Dalam kongres itu dihadiri 80 anggota SI lokal dengan anggotnya sebanyak 36.000 orang. Dianggap kongres nasional krn SI mempunyai cita-cita spy penduduk Indonesia menjadi satu nation atau suku bangsa (bangsa Indonesia)
HOS Cokroaminoto adalah guru bagi Soekarno, Semaun, dan Kartosoewirjo . Tahun 1917 muncul aliran revolusioner sosialis ditubuh SI yg  berasal dr SI Semarang yang dipimpin Semaun (anggota ISDV- Indische Sociaal Democratische Vereniging, didirikan H.J.F.M. Sneevliet, 1914). Pengaruh Sosialis Komunis yg dibawa Semaun dan tokoh muda lainnya (Darsono, Tan Malaka, dan Alimin)  semakin menjalar di SI. Tahun 1921, Semaun melancarkan kritik terhadap kebijakan SI pusat sehingga timbul perpecahan. Perpecahan itu melahirkan SI Merah beraliran komunis diwakili Semaun, dan SI Putih beraliran nasionalis keagamaan diwakili Cokroaminoto
Ditetapkanlah disiplin partai agar tidak ada keanggotaan rangkap. Dan Tan Malaka (Sosialis) meminta pengecualian bagi anggota PKI. Tetapi Disiplin partai tetap diberlakukan sehingga  Semaun dikeluarkan dari SI. Tahun 1923 Kongres SI di Madiun, SI Putih  berganti menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) dan memberlakukan disiplin partai, sedang SI Merah yg didukung PKI menjadi Sarekat Rakyat. Azas perjuangan PSI adalah nonkooperatif (namun tetap mengijinkan anggotanya duduk dalam Dewan Rakyat atas nama Pribadi). Tahun 1927, Kongres PSI menegaskan azas Organisasi itu adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. PSI berbagung dengan Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) sehingga nama organisasi PSI ditambah Indonesia menjadi PSII.
Tahun 1928, dalam Kongres Pemuda PSII ikut aktif mengambil bagian dalam PPPKI. Banyaknya anggota muda dalam PSII membawa perbedaan paham antara golongan muda dan tua. Tahun 1923, timbullah perpecahan dalam organisasi PSII dengan munculnya Partai Islam Indonesia (PARII) dibawah Sukiman yg berpusat di Yogyakarta. Agus Salim dan A.M. Sangaji mendirikan Barisan Penyadar yg berusaha menyadarkan diri sesuai tuntutan zaman. Tahun 1940, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo mendirikan PSII tandingan terhadap PSII yg dipimpin Abikusno Cokrosuyoso. Perpecahan tersebut menyebabkan kemunduran PSII. Peranannya sebagai Partai Islam dilanjutkan oleh PARII dibawah pimpinan dr. Sukiman.

Selasa, 19 September 2017

Menumbuhkan Minat Baca



Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula informasi yang kita dapatkan, walaupun terkadang informasi itu kita dapatkan secara tidak langsung.
Membaca memiliki sangat banyak tujuan. Selain mendapatkan informasi, membaca juga dapat membuka wawasan yang sangat luas. Membaca juga merupakan kunci untuk membuka pintu gerbang kesuksesan. Tiada orang di dunia ini yang sukses tanpa membaca. Membaca juga merupakan sarana untuk menuntut ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan di dunia ini sangat banyak dan tak terbilang. Maka membaca perlu dibiasakan sejak dini. Semakin sering kita membaca akan semakin sulit bagi kita untuk tidak membaca. Membaca itu sendiri tidak harus membaca buku ilmiah seperti Fisika, Biologi, Sejarah, Ekonomi dan lain sebagainya. Buku cerita, cerpen, novel, artikel dan majalah pun boleh boleh saja. Buku-buku tersebut juga memiliki manfaat dan informasi seperti halnya buku-buku ilmiah. Namun, sebagian dari mereka memiliki informasi yang tidak tersampaikan secara langsung. Membaca juga dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Di zaman yang sudah canggih kali ini, membaca juga tidak perlu harus membeli buku. Bahkan membaca buku di internet sudah sangat memungkinkan. Beberapa dari buku sekolah juga sudah ada yang dibeli oleh pemerintah untuk dapat dipublikasikan secara gratis melalui media internet.
Namun amat sangat disayangkan, dewasa ini jarang kita temukan pelajar yang gemar membaca. Mengisi ruang waktu yang luang untuk membaca. Malah kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk main game, pergi ke warnet, jalan-jalan bersama teman keluar rumah. Tapi, masih ada juga sebagian dari mereka yang menanamkan sikap gemar membaca. Ada yang memiliki kegemaran membaca buku ilmiah, dan aja juga yang memiliki kegemaran membaca buku fiksi. Namun, itu tak menjadi masalah. Selagi mereka masih dapat memanfaatkan waktu luang dengan mengisi hal-hal yang bermanfaat, seperti membaca atau belajar.
Untuk menumbuhkan minat baca masyarakat,  disni saya akan membuat suatu kelompok yang berisi para relawan,  untuk mengumpulkan beberapa buku yang sudah pernah dibaca oleh pemiliknya atau sudah tidak terpakai. Selanjutnya,  apabila sudah terkumpul buku- buku tersebut, saya akan membuka suatu lapak di tengah-tengah masyarakat, seperti di taman atau tempat-tempat umum lainnya.  Saya akan mengajak masyarakat membaca, atau paling tidak menawarkan masyarakat untuk mampir ke lapak saya,  barangkali ada buku yang membuat mereka tertarik. Apabila membaca ditempat, saya akan menggratiskannya.  Namun,  apabila ada yang berminat meminjam,  saya akan berikan tarif 3000/buku dengan waktu pengembalian maksimal satu bulan. Dikembalikan ke lapak tempat dia meminjam. Uang hasil peminjaman buku tersebut akan saya sumbangkan bagi mereka yang membutuhkan.
Para relawan ini nantinya yang akan menunggui lapak, mereka menunggui lapak bisa sambil membaca buku yang ada,  ataupun melihat-lihat sekitar. Sistemnya saya akan membagi waktu untuk para relawan.  Bagi relawan yang tidak memiliki kegiatan bisa menunggui lapak,  digilir saja. Lapak akan dibuka dari pukul 09.00-21.00 WIB. Bagi para peminjam saya melakukan beberapa penyimpanan data,  seperti nama, judul buku,  alamat rumah, dan nomor handphone yang dapat dihubungi. Data itu semua digunakan untuk pengambilan buku apabila telah melewati batas pengembaliannya. Apabila telat mengembalikan akan didenda 1000/buku.
Ya,  projek yang saya buat memang seperti perpustakaan keliling, mengapa demikian?  Karena masyarakat malas mengunjungi perpustakaan yang menetap di sela-sela kesibukan mereka.  Dalam hal ini kami yang menemui masyarakat, jadi masyarakat tidak perlu repot-repot datang ke perpustakaan. Ya memang,  buku yang kami miliki tidak selengkap buku yang dimiliki perpustakaan. Saat pengembalian,  kami fleksibel,  bisa memgambil buku di tempat para peminjam berada,  asalkan daerah nya masih bisa terjangkau oleh kami.

Minggu, 15 Desember 2013

Report text of camel


Camels

Camels is one of the mammals. They are herbivore. Camels eat graces and leaves. Camels have lived on Earth 50 years. They typically weight 600 kilograms. They average about 3 meters. Camel can live in Africa, Arabia and India. Camels have brown fur. They have a small and round ears and hump. Camels live in desert. Body camels survive in temperatures of 41 Celsius. More than that, camels start sweating.
 Camel walked far away. Camels have peculiar features it is hump. Hump camels saved specialty fats, which can be converted into water.  So, when camels walked far away, camels not run out the food and drinks. Camels be used for taken the meal and milk. Moreover, camels as animal workers.
 There are two different types in the world. There are Arabian camels, and baktrian camels. Arabian camels live in middle east and middle africa. The amount is currently about 14 million head. Bactrian camels currently numbers about 1.4 million decrease due to a variety of factors, one of which mass killing camels in Australia.

Cerpen pengalaman pribadi


Pengalaman Melukis
Hari itu guru seni budaya ku memberitahu siswa kelas IX A, agar hari Sabtu minggu depan membawa alat-alat melukis. Dalam benakku aku berkata “Oooo tidak, aku ngga punya alat-alat melukis-_-“. Akhirnya pulang sekolah aku membeli alat-alat melukis di toko buku, seperti kuas, pallet, dan kanvas. Di benakku aku bertanya-tanya,”Apakah bisa aku melukis?, mungkin tidak? Habisnya selama ini aku belum pernah melukis.” Kelas ku mandapatkan tema “Ekstrakulikuler SMP Negri 1 Subang”. Aku terus berpikir, “kira-kira ekstrakulikuler apa yang bisa ku lukis?:/”. Aku berpikir keras, dan akhirnya aku mendapatkan ide, aku akan melukis sebuah tenda dan tunas kelapa. Tenda dan tunas kelapa termasuk ke dalam ekstrakulikuler pramuka.
                Hari demi hari pun berlalu, sekarang saatnya pensilku ini membuat torehan-torehan diatas kanvas. Yang semulanya aku akan menggambar tenda dan tunas kelapa, karena suatu hal, berubah menjadi menggambar orang yang menggunakan baju paskibra. Menggambar orangnya dalam dua kanvas, kanvas aku dan kanvas Dita. Dita menggambar muka dan badannya. Sedangkan aku menggambar kakinya. Awalnya, aku tidak yakin bisa menggambar kaki. Namun, setelah kucoba, aku pun bisa menggambar kaki. Ternyata sekarang tidak langsung melukis, hanya membuat sketsa, melukisnya dilanjutkan hari Sabtu minggu depan. Ada yang membuat sketsa gitar, biola, logo spensa, logo PMR, yoyo, bulutangkis, dan masih banyak lagi. Sketsa teman-teman ku sangatlah bagus. Aku pun tidak percaya diri dengan hasil sketsa ku, karna aku hanya menggambar celana dan sepatu paskibra.
                Hari demi hari telah kulewati, hingga hari Sabtu pun tiba kembali. Hari ini saatnya aku berkutat dengan cat. Bu Nida, guru seni budaya kami, hanya menyediakan cat berwarna dasar, seprti warna kuning, biru, hitam, putih, merah. Warnanya cukup terbatas. Oleh sebab itu, apabila aku membutuhkan warna selain warna dasar, aku harus mencampurkan beberapa cat. Ku mulai dengan menuangkan cat berwarana biru dan cat berwarna hitam ke atas pallet, lalu mencampurkannya, agar mendapatkan cat berwarna biru donker untuk melukis celana. Warna biru donker pun kudapatkan. Lalu kucelupkan kuas ku, ke dalam cat, dan menorehkannya secara perlahan di atas kanvas. Awalnya, cukup sulit untuk melukis, namun akhirnya dunia ku telah bersatu dengan dunia melukis. Aku sudah merasa nyaman dan enjoy saat melukis. Serasa dunia milik sendiri, saat melukis aku tidak mau diganggu oleh siapa pun.
                Lalu, kucampurkan kembali cat berwarna hitam, biru, kuning,dan merah. Agar mendapatkan warna coklat, untuk melukis sepatu. Hal yang cukup sulit bagiku, karena setiap warna yang dicampurkan harus sesuai, jangan sampai ada yang warna terlalu banyak, nanti bisa menyebabkan warna coklat tidak akan tercipta. Melukis celana dan sepatu sudah kuselesaikan, sekarang saatnya aku melukis background. Saat itu aku bingung akan menggunakan warna apa untuk melukis background. Warna hijau sudah digunakan teman, akhirnnya aku memutuskan untuk menggunakan warna biru yang bergradasi. Pertama-tama aku menggunaka cat berwarna biru asli. Lalu, cat berwarna biru dicampur dengan warna putih , agar didapatkan cat berwarna biru agak muda, dari yang sebelumnya. Begitu seterusnya, hingga jadilah gradasi. Setelah beberapa jam asyik dengan dunia melukis, lukisan ku pun jadi, siap untuk dikumpulkan Sabtu depan. B)
                Banyak pengalaman yang kudapat saat melukis. Seperti aku harus sabar, jangan tergesa-gesa. Karena apabila tergesa gesa lukisan ku akan jelek. Rok pramuka aku pun menjadi kotor, karena terkena cat berwarna putih. Untung saja terkenanya hanya sedikit. Hingga sekarang noda itu masih ada, karena tidak mempunyai tinner untuk membersihkanya. Dalam benaku berkata “wkkkwkwkw #watirr sekali hidupmu Rin”.
                 Tak terasa, sekarang sudah hari sabtu lagi. Saatnya aku mengumpulkan hasil karya ku. Bu Nida menyatukan semua kanvas siswa kelas IX A. Terlihat Ibu Negara(Zahra) dengan Bu Nida diskusi, untuk menyatukan lukisan kami dengan menggunakan pola garis melengkung.  Aku dan teman-teman sepakat untuk mewarnai pola tersebut dengan warna kuning. Aku cukup senang, karena lukisan ku yang terkena pola hanya sedikit, jadi melukisnya kembali dengan warna kuning pun tidak akan memakan waktu lama. Ternyata aku salah pengertian, setelah aku bertanya beberapa kali ke Ibu Negara, “yang harusnya di lukis ulang tuh, yang ini”(sambil nunjuk ke daerah background yang besar), begitu katanya.  “Oooo tidaakkkkk, aku harus melukis ulang backgroundnya:’( padahal aku sudah capek-capek melukis background itu, dan sekarang harus dilukis ulang:’( penyiksaan bangett. Kenapa ga dari waktu itu aja dibuat polanya?:’(“jeritku dalam hati.
                Aku memulai semuanya dari awal. Sekarang aku harus memutihkan background yang akan di lukiskan dengan cat berwarna kuning, agar warna birunya tidak terlihat. Anehnya saat melukis ulang, ko terasa mudah capek, pegel, tidak seperti saat pertama melukis. Sudah bosen kali yaa(?). Ku tuangkan cat berwarna putih ke atas kanvas, lalu aku mencelupkan kuasnya, dan mulai melukis ulang. Semua background yang terkena pola sudah berwarna putih. Kembali kutuangkan cat berwarna kuning, untuk melukis background tersebut. Lukisan ku sudah jadi kembali. Namun, aku merasa kurang puas dengan lukisan ku yang sekarang, lebih merasa puas dengan lukisan ku yang sebelumnya. Warna backgroundnya hanya kuning polos, tanpa dicampur dengan warna apapun. Hati aku kurang srekk dengan warna background, yang kuning polos. Akhirnya aku melukis ulang backgroundnya dengan menggunakan sedikit campuran warna oranye dengan kuning. Sekarang aku sudah merasa puas kembali dengan hasil lukisan ku.
                Keesokan harinya Bu Nida kembali menyatukan lukisan kami. Jleggerrr rr. Petir menghampiri diriku. Dddddaaaannnnnnn akuuuuu harus kembali melukis background menggunakan warna kuning, karena background aku terlalu berwarna oranye.:’( “Oooo tidakkk. Mengapa harus salah lagi? Mengapaaaa? Aku bingung, kalau backgroundnya kuning polos aku ga sukaaaa… aaahhhh akuu harus gimanaa??:’(“ucapku dalam hati kesaal. Terpaksa besok aku harus melukis ulang lagiii :’(
                Hari ini, saatnya aku melukis ulang lukisan ku, dengan warna kuning. Beberapa kali aku melukis backgroundnya, agar tidak terlihat oranye lagi. “Zahra kaya gini?”sebari menunjukan lukisan ku. “ih Arini, kurang ada hiasan.” Ucap Zahra. Dan sekarang aku baru mengerti , sebenernya lukisan ku berwarna agak oranye juga ga apa-apa, harusnya tuh ada sedikit sentuhan terakhir atau hiasan-hiasan gitu dehh. Aku pun berdiskusi dengan Dita, kira-kira hiasan apa yang cocok untuk digunakan di lukisan kami. Akhirnya, kami sepakat untuk membuat titik-titik cat, yang dituangkan langsung dari tempat catnya ke kanvas kami. Selain itu, kami juga membuat, beberapa garis lengkung, yang dituangkan langsung dari tempat cat ke kanvas kami.
                Di bagian kiri background lukisan aku, aku membuat pola hiasan titik-titik yang dituangkan langsung dari tempat cat ke kanvas, agar catnya timbul.  Di bagian kanan backgroundnya, aku membuat beberapa garis lengkung, yang dituangkan langsung dari tempat cat, agar catnya timbul juga. Di bagian tengah background aku menyatukan hiasan titik-titik dengan hiasan garis lengkung. Setelah itu, aku menaburi gliter, agar ada blink-blinknya gitu deh:D Lalu, aku jemur lukisannya di taman, karena apabila tidak dijemur, keringnya pasti akan lama, kebetulan saat itu cuaca sedang cerah/panas.
                Setelah beberapa menit aku mengambil lukisan ku, dan aku melanjutkan melukis tiga dimensi, dengan menggunakan media Koran dan lem fox.  Awalnya, aku bingung, bagian mana yang akan ditimbulkan, karena objek yang aku lukis hanya sedikit. Aku meminta saran Dita, “Bagian pesaknya aja Rin yang ditimbulkan.”kata Dita. Aku pun mengikuti sarannya. Langsung aku membuat pola pesak di Koran, dan menilapkannya beberapa kali, hingga menjadi tebal. Setelah itu aku olesi lem, lipatan Koran yang satu, dengan yang lainnya, dan langsung aku lukis. Sesudah melukis, aku pun menjemurnya. Dalam waktu beberapa menit, lukisannya sudah kering, lalu aku olesi lem fox, dan menempelkannya di objek pesak yang sudah aku lukis diatas kanvas.
                Saat proses melukis, aku dan Dita sering kali berdiskusi. Kadang Dita juga menanyakan bagaimana saranku, atau bahkan sebaliknya, aku yang menanyakan bagaimana saran Dita. Kadang juga kami berdebat. Bila aku sudah selesai melukis , aku selalu membantu Dita, Karna begitu sulitnya objek yang harus Dita lukis. Setelah mengalami jatuh bangun beberapa kali, lukisan aku pun jadi, dengan background yang lumayan abstrak, menurutku. Aku melihat lukisan Dita dan Zahra, gilaaa, lukisan mereka menurutku bagus. Aku pun makin tidak percaya diri dengan hasil karyakuuu. Aku bersyukur, walaupun menurutku lukisan aku ini jelek, tugas untuk melukis udah selesai:D . Ga akan ada lagi yang namanya melukis ulang! Sekarang lukisan ku udahh jadii, horeeee:D Butuh perjuangan untuk menyelesaikan lukisan ini. Lima kali aku harus melukis ulang, sehingga bisa menjadi lukisan seperti ini. Bayangkan lima kali! Sangat-sangat menyita waktu. Betapa pegalnya tanganku ini, untuk melukisL dannnn sekarang aku bahagia, karena tugas ku untuk melukis sudah selesai:D hhhhoreeeeee :D